Jumat, 16 Februari 2024

Selamat Menikah 💍


Sebab Menikah Bukan Sekadar "SAH"

Perhatikanlah, yang harus belajar itu sama-sama, bukan sendirian. 

Bahagia itu sederhana lewat hal-hal kecil dari hal yang sama-sama dimengerti, dari kata-kata indah semisal pujian.

Jangan terus merasa tertekan, hidup ini indah maka nikmati. Allah sayang kamu. 

Harus bisa saling mengerti, dan mau memahami satu sama lain. Jangan hanya kokoh pada 1 prinsip, barangkali prinsip yang kita pegang juga punya kurangnya.

Jangan melukai dan membuat tak nyaman, ia sudah susah payah tumbuh di tengah jalan yang tak mulus, maka bantulah ia melewati harinya dengan lebih baik.

Barangkali sulit untuk tidak melukai, maka mari belajar bersama-sama agar sama-sama paham apa yang harus sama-sama kita isi dan lengkapi. 

Barakallah wa Baraka alaika wa jama'a bainakuma Fii Khair my brother,

Kita tumbuh dan saling menjaga. Aku suka dengan mu pun nyaman berada di dekatmu walau kadang tak pernah sama. 

Tapi beginilah kita, 
Teruslah belajar karena hidup ini tak berhenti pada hari ini. 

Teruslah berjuang, sukses selalu ya a' 💞

Kamu benar, yang tahu tentang kita adalah diri kita dan keluarga inti kita. Semarah-marahnya kita, setertekan apapun kita mereka paling mengerti bagaimana kita walau mungkin tidak bisa membantu, tapi setidaknya mereka membuat diri lebih tenang dan berada dekat dengan nya menjadi tempat ternyaman. 

Barakallahufiik a' 💞

_SaBan_ ✍️

Rabu, 13 November 2019

PendekaP DaTra Sasak (Pendekatan Pragmatik dalam Tradisi Sasak (Nyeput)

Assallamu’alaikum Wa rohmatullahi Wa barokatuh, hallo sahabat SaBan, kemarin SaBan sudah menceritakan tentang SaNaKku (Sasak dan Naskah Kuno) nah sekarang tentang Nyeput, atau tulisan ini SaBan beri nama PendekaP Datra SASAK atau Pendekatan Pragmatik Dalam Tradisi Sasak Nyeput,kira-kira tahu gak niih apa Nyeput??? Nah loh jangan ngarang-ngarang ya, baca aja tulisan SaBan sampai selesai, biar gak ada salah tafsir, tulisan kali ini berbicara tentang Pragmatik juga yakni salah satu kajian bahasa, jadi tulisan ini perpaduan antara kajian bahasa dengan suatu tradisi, kira-kira bagaimana ya??? Langsung aja yuk baca 🤗

Pendekatan Pragmatik Dalam Tradisi Sasak (Nyeput), tulisan ini akan membawa sahabat SaBan dalam memahami pendekatan Pragmatik yang akan dikaitkan dengan Nyeput, Nyeput sendiri ialah salah satu tradisi Sasak yang sudah sangat lama berkembang.

Menurut Purwo (1990: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya, yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Purwo, 1990:31). Pendekatan pragmatik itu sendiri ialah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca.

Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan pendidikan, moral politik, agama, ataupun tujuan lain. Sedangkan Nyeput ialah suatu istilah yang memiliki arti mengambil satu lembar naskah kuno. Nyeput ini adalah tradisi orang sasak sebelum membaca naskah kuno atau takepan. Mengenai Naskah kuno sudah SaBan paparkan ya di tulisan SaBan yang berjudul (SaNaKku).

Selain untuk ritual sebelum membaca naskah kuno, Nyeput ini pun sering dilakukan di acara-acara sunatan, kurisan, syukuran masjid, karena Nyeput ini sendiri memiliki makna atau gambaran kehidupan. Dalam hal ini jika seseorang yang melakukan Nyeput ia akan diberitahu bagaimana gambaran kehidupannya baik tentang kisah asmara, pekerjaan, keluarga, ataupun yang lainnya. Hal ini boleh dipercayai atau tidak tergantung orang-orang yang melakukannya, namun tradisi ini sangat diyakini oleh masyarakat sasak secara umum.

Melakukan Nyeput, tidak asal-asalan tentunya sahabat SaBan, ada beberapa hal yang harus kita persiapkan, adapun dua syarat wajibnya yakni menyiapkan buah lekoq atau buah pinang yang muda, dan daun sirih yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda.. Kedua hal tersebut tidak hanya sekadar syarat, tetapi memiliki makna atau artinya secara khusus.

Buah lekoq dan daun sirih ialah syarat wajib yang harus disediakan, selain itu juga diiringi dengan upacara karena itu adalah harapan tertingginya orang Sasak. Karena jika kedua syarat tersebut disatukan maka hasilnya akan berubah menjadi berwarna merah dan jika sudah disatukan tidak akan pisah hal ini mencerminkan harapannya untuk dekat kepada Allah SWT,.

Bahan-Bahan yang wajib ada, Buah Pinang dan Daun Sirih.

Nah itu sekilas mengenai Pendekatan Pragmatik dan Nyeput, lalu apa hubungannya Pendekatan Pragmatik dan Nyeput???. Hal itu akan diketahui saat sahabat SaBan membaca keseluruhan tulisan ini. Jadi tetap di baca dengan baik ya, lalu tinggalkan jejak di kolom komentar.

Hubungan Nyeput dan pendekatan pragmatik tentunya sangat erat, karena nyeput ialah salah satu tradisi sasak yang dilakukkanya dengan mengambil salah satu lembar naskah kuno yang sudah dipilih. Naskah kuno itu sendiri berisikan berbagai macam, ada yang berisikan tentang peperangan, asmara, kehidupan atau hal lainnya.Nah setelah diambilnya satu lembar dari naskah kuno yang telah dipilih maka dibacakan lah bagian dari naskah kuno yang sudah dipilih tadi dengan menggunakan tembang.Usai dibacakan lalu diartikan atau dimaknai oleh para penerjemah ataupembaca naskah kuno tersebut, dari cerita lalu dimaknai selanjutnya dikaitkan dengan kehidupan nyata dari orang yang melakukan nyeput.

Proses awal Nyeput, yakni merapikan naskah atau takepan yang akan dipilih oleh orang yang akan melakukan nyeput.
Proses selanjutnya mengambil satu lembar naskah.
Proses Pembacaan Naskah yang dipilih dengan tembang.

Nah sahabat SaBan, itu beberapa dokumentasi yang ada. Jadi Nyeput ini sendiri dibacakan dengan berbagai tembang, yakni :

1. Tembang Pangkur yang memiliki karakteristik tegas.
2. Tembang Sianom yang memilik karakteristik muda dan bijaksana.
3. Tembang asmaran dane yang memiliki karakteristik kasmaran.
4. Tembang dangdang atau gendis atau burung gagak putih yang memiliki karakteristik istimewa.
5. Tembang mas kamambang, dan
6. Tembang Danur, yakni tembang yang memiliki karakteristik keras.
Jadi tembang secara umum untuk naskah ada 6 jenis-jenisnya, namun secara seratmina ada 12 tembang. Jadi kesimpulannya pendekatan pragmatic dengan Nyeput ialah pemaknaan dari cerita yang ada pada naskah tersebut lalu dimaknai secara umum dengan pemamaparan oleh orang yang bisa membaca naskah tersebut.

Narasumber SaBan pada kali ini berbeda, kalau tulisan ini dibantu oleh tiga orang narasumber, yakni :
1. Bapak Hasan,
2. Amaq Bari, dan
3. Bapak Sahdin

Foto Narasumber

Tempat SaBan penelitian ada di daerah Jonggat, tepatnya ada di desa Bonjeruk Lombok Tengah, atas bantuan bapak Usman, beliau adalah salah satu tokoh adat yang mengarahkan kami hingga bertemu dengan para penggiat naskah kuno.Tempat SaBan penelitian ada di daerah Jonggat, tepatnya ada di desa Bonjeruk Lombok Tengah, atas bantuan bapak Usman, beliau adalah salah satu tokoh adat yang mengarahkan kami hingga bertemu dengan para penggiat naskah kuno.Beliau pun pengurus Camp Bonjeruk, tak disangka ternyata kami bertemu dengan tokoh adat yang begitu baik, setelah panas-panasan menuunggu sampai selesai kaum adam jum’atan, lalu berteduh di salah satu rumah warga, hingga tersesat sampai 4 kali, sebuah pengalaman yang luar biasa, tak hanya itu sebelumnya pak Hasan penggiat naskah kuno awalnya tidak berani melakukan nyeput karena beliau tidak berani, namun karena kami telah setuju hanya dibacakan saja dan dimaknai secara umum saja maka beliau pun mau melakukan nyeput. MasyaAllah, semoga bermanfaat. Terimakasih banyak.

Wassallammu’alaikum Wa rohmatullahi Wa barokatuh.

Rabu, 23 Oktober 2019

SANAKKU (SAsak dan NAskah Kuno)

Assallamu’alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokatuh, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya bersama rekan-rekan saya dalam menelusuri jejak- jejak peninggalan zaman dahulu. Perjalanan kami tak semudah yang dibayangkan, kami harus mencari terlebih dahulu para penggiat atau para narasumber yang memang bisa kita gali pengetahuannya tentang Sasak dan Naskah Kuno khususnya. Berbagai cara dilakukan, dari mulai bertanya kepada kakak kelas, hingga kepada kalangan orangtua, begitu banyak yang direkomendasikan, dari mulai paman SaBan sendiri yang memang salah satu tokoh adat yang ada di daerah SaBan, selain itu direkomendasikan di kuripan, hingga hal yang tak terduga adalah guru SMP SaBan. Spontan dengar usulan tersebut, siang hari pada hari Sabtu, 19 Oktober 2019 SaBan langsung ke rumah beliau, dengan tujuan silaturahmi, diskusi-diskusi kecil dan tentunya sekaligus membuat janji.

Setelah SaBan sampai di rumah beliau, SaBan disambut dengan baik, dan nama SaBan sungguh masih diingat padahal sudah hampir 5 tahun berlalu, sungguh guru yang luar biasa, kami pun berdiskusi ringan dan SaBan pun mengutarakan maksud atau tujuan SaBan hadir, lalu tanpa berpikir panjang beliau pun dengan senang hati akan membantu. Namun perlu diketahui, beliau adalah guru muatan lokal, yang ternyata sejak muda memang sudah menyukai naskah kuno, tak hanya itu SaBan juluki beliau dengan Bapak Sasak, karena beliau adalah keturunan asli dari masyarakat Sasak, nama beliau adalah Lalu Pathul Ridwan, seorang pegawai kelahiran 15 November 1966.

Narasumber

Alhamdulillah semua berjalan lancar, namun sebelum SaBan dan rekan-rekan SaBan berkunjung untuk berdiskusi, tentunya sebelum hari H, SaBan terlebih dahulu membuat janji karena kita harus tetap menjunjung etika dalam bertamu, nah setelah SaBan mengungkapkan maksud dan tujuan SaBan dengan senang hati beliau mengizinkan diskusi itu berlangsung, hingga SaBan dan Bapak Sasak membuat janji, ya kami membuat janji untuk datang pada hari Ahad, tanggal 20 Oktober 2019 pukul 10.00 WITA. Usai dari rumah beliau SaBan pun langsung memberi kabar kepada rekan-rekan SaBan agar bisa hadir tepat waktu pada jam yang telah disepakati.

Waktu terus berlalu, hari itu pun hadir, kami semua berkumpul di satu titik, namun ternyata Allah berkehendak lain, salah satu dari kelompok kami tertimpa musibah, motor yang akan dipakai untuk menuju rumah Bapak Sasak ternyata hilang, maka dengan berat hati perjalanan kami pun tetap dilanjutkan karena sudah janji. Tak hanya sampai sana sahabat SaBan, kami harus mengalami dua kali tersesat , hingga pada akhirnya kami pun sampai pada tujuan walau telat dari pukul yang sudah dijanjikan. Mengapa tersesat?, karena rekan-rekan SaBan berangkat dari Mataram sedangkan SaBan sendiri menunggu mereka sampai di rumah, baru berangkat bersama ke lokasi.

Alhamdulillahnya mereka sampai dengan selamat, lalu kami bediskusi untuk membawakan buah tangan apa yang pas setelah itu kita berangkat. Tibanya kami di rumah beliau, kami pun mengungkapkan kembali apa tujuan dan maksud kami hadir dan ingin berdiskusi dengan beliau, tidak lain adalah ingin mengetahui bagaimana bentuk peninggalan pendahulu Sasak, seperti apa bentuknya, dan bagaimana tips-tips menjaga hadirnya Naskah Kuno di era zaman yang sudah sangat praktis. Mau tahu? yuk, simak terus ya tulisan ini sampai selesai.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Naskah adalah karangan yang masih ditulis tangan atau diketik secara manual; karangan seseorang yang dianggap sebagai karya asli; bahan-bahan berita yang siap di edit dan diberitakan. Naskah Kuno itu sendiri menurut narasumber yang kami dapatkan adalah kumpulan cerita-cerita yang diangkat dari kehidupan istana yang ada di Lombok yang menggunakan bahasa Sasak campuran/ linggih atau dalam bahasa Sasak disebut dengan Takepan atau Babat.

Selain itu, ada juga yang disebut dengan Pemaos atau pembaca naskah, sedangkan penerjemahnya adalah Pujangga. Nakah kuno ini ditulis menggunakan daun lontar dan menggunakan pemaje atau pisau kecil runcing.

Naskah Kuno lontar Rengganis

Gambar di atas adalah salah satu contoh dari naskah kuno, namamanya Lontar Rengganis. Menurut beliau Rengganis itu berasal dari dua kata yakni Reng dan Ganis. Reng = Roh, Ganis = Manis atau baik. Jadi lontar atau takepan Rengganis ini adalah naskah kuno yang berisi tentang kisah seorang putri raja berparas cantik dan manis yang memiliki perilaku yang baik secara dunia dan akhirat. Kalau SaBan simpulkan Rengganis ini adalah Putri yang selain baik beliau pun juga adalah putri yang taat kepada Tuhanya. Naskah ini berisikan prosa dan prosa lirik ada pun yang berbentuk pantun atau gurindam. Selain lontar Rengganis, ada juga naskah-naskah lain yakni asmara Dono, Surat menat, Takepan Monyeh, dan naskah-naskah yang jika ingin dibuka harus melakukan beberapa ritual khusus, seperti upacara adat dulu, dan beberapa ritual lainnya.

Lontar atau takepan Rengganis ini termasuk ke dalam naskah biasa, walau termasuk naskah biasa, naskah ini ada caranya jika mau dibaca. Salah satu caranya adalah dengan mengoleskan air khusus kebagian lontar yang akan dibaca. Seperti berikut :

Cara Membaca Takepan/ Lontar Rengganis

Setelah dioleskan air tersebut, maka huruf-huruf yang ingin dibaca akan terlihat jelas, perlu diketahui juga, naskah kuno lontar Rengganis ini menggunakan huruf kawi atau huruf jejawan atau huruf sasak campuran yang disebut linggih. Mengapa hal-hal seperti itu perlu dilakukan, karena ritual-ritual tersebut mengandung nilai-nilai tradisional dan bahasa lisan tersendiri.

Lontar Rengganis

Naskah-naskah kuno ini terbagi berdasarkan strata sosial :

  1. Strata Keturunan pemimpin atau golongan pertama yang biasa disebut golongan madya atau utama, strata ini ditempati oleh raja atau datu.
  2. Golongan rakyat atau masyarakat, kaum nista atau kaum biasa.

Di zaman seperti sekarang ini begitu rentan kehilangan warisan nenek moyang kita yang seharusnya dijaga malah hilang, adapun beberapa tips dalam menjaga naskah kuno, antara lain :

  1. Memelihara atau menaruh di tempat yang baik, seperti lemari khusus, dibuatkan peti atau gerobak khusus.
  2. Mengembangkan nilai-nilai yang terkandung
  3. Memperkenalkan kepada generasi baru

Nah itu beberapa tips-tipsnya sahabat SaBan, selain itu kita sebagai generasi muda harus tahu juga dong sejarah dari daerah kita juga. Karena ini Naskah kuno maka berkaitan erat dengan SaSak. Nah tahu gak nih asal muasal kata SaSak? Tahu gak??? Biar nggak penasaran lanjutkan bacanya ya sampai selesai.

Asal muasal kata SaSak, jadi ada 2 versi yang pertama dari kata sak-sak (satu satu) nah ini berasal dari pada zaman dahulu orang- orang yang pertama kali masuk ke lombok ini mengklaim dirinya adalah orang yang pertama yang sampai pada daerah ini. Memang benar yang pertama, namun ada yang pertama dari jalur timur, barat, selatan, utara. Sehingga dari kata sak-sak itulah muncul kata sasak. Lalu versi yang kedua, ketika para pendatang pertama kali sampai di daerah ini mereka menemukan pulau ini begitu sesak dengan tumbuh- tumbuhan naik itu pohon, semak- semak dsb. Sehinga dari kata sesak itulah muncul kata SaSak. Untuk nama Lombok itu sendiri berasal dari kata Lumbuq yang berarti lurus. Karena berbagai pengucapan Lumbuq, Lumbuq,Lumbuq, jadinya Lombok. Selain itu sahabat SaBan di Lombok sebenarnya masih banyak para penggiat Naskah kuno jika kita mau mendalaminya lagi. Salah satu contoh yang masih sering melakukan pembacaan naskah ada di Bale Beleq, Bonjeruk Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Kegiatannya rutin setiap 2x perbulan, setiap hari Sabtu di pekan pertama, dan hari Sabtu di pekan terakhir. Tuuuh kalau penasaran bisa langsung kesana aja ya. Selain itu ada juga organisasi atau komunitas para penggiat, namanya Paguyuban Pemaos, di daerah Lombok Tengah bagian selatan, umumnya di Pujut dan Sengkol. Nah biasanya pembacaan naskah kuno ini diiringi atau dibaca dengan Tembang macapat Sasak. Naskah kuno ini pun sering dibaca pada bulan-bulan Islam, bulan Maulid, Muharram, Dzulhijjah, atau bahkan saat acara pernikahan.

Nah itu sekilas dari pengalaman SaBan semoga apa yang SaBan tulis bisa bermanfaat. Terimakasih 🤗 Wassalamu’alaikum warahmatullahi Wabarokatuh